BLOG TEMPAT DOWNLOAD PROGRAM GRATIS…..!

ASI EKSLUSIF

ASI ekslusif adalah suatu slogan dari WHO yang artinya pemberian ASI saja tanpa pemberian makanan padat ataupun susu bubuk sampai bayi berumur 4 bulan, dan ASI tetap dilanjutkan setelah itu. Berbagai angka telah dikemukakan mengenai keberhasilan ASI ekslusif di suatu daerah. Angka-angka tersebut sebagian besar diambil dari hasil penelitian secara cross seccional yang di dalam ilmu metodologi merupalan metode yang paling lemah, karena banyak biasnya. Cara cross seccional dilakukan dengan membagikan kuesioner kepada ibu-ibu yang mempunyai bayi dan menanyakan apakah sampai umur 4 bulan hanya diberi ASI saja, dengan jawaban dikotomi (ya/tidak). Dengan metode seperti ini, banyak sekali kelemahannya sehingga menimbulkan bias, karena:

1. Ibu-ibu kadang-kadang tidak ingat betul, apalagi kalau pada waktu wawancara bayinya sudah agak besar.
2. Pewawancara biasanya adalah kader atau petugas kesehatan. Kader/petugas kesehatan biasanya tidak disenangi masyarakat dan masyarakat hanya mengangguk atau menyetujui apa yang dianjurkan oleh kader/petugas kesehatan. Beberapa penelitian membuktikan bahwa kader/petugas kesehatan hanya menyuruh dan melarang. Oleh karena itu, daripada dimarahi lebih baik mengiyakan saja.
3. Saat wawancara kadang-kadang tidak tepat sehingga tidak memberi suasana yang kondusif bagi ibu-ibu untuk menjawab pertanyaan.
4. Formulir kuesioner untuk wawancara tidak seragam, dan sebagainya.

Oleh karena itu, angka ASI ekslusif di Indonesia bervariasi antara 30–60%. Suatu penelitian yang telah dilakukan di NTB dengan metode kohort, baik di daerah rural maupun urban menunjukkan bahwa ASI ekslusif hanya berkisar ± 2% (angka resmi dari Dinas Kesehatan diatas 30%). Metode kohort merupakan metode kuat setelah randomized control trial (RCT). Karena itu, data ASI ekslusif yang disajikan di Indonesia jauh lebih dipercaya hasilnya jika menggunakan kohort. Taksiran kasar ASI ekslusif di Indonesia hanya berkisar di bawah 10%.

Mengapa ASI ekslusif di Indonesai di bawah 10%? Hal ini disebabkan oleh:

1. Di kota: pada waktu ini banyak sekali ibu-ibu yang bekerja, apalagi pada saat krisis moneter lebih banyak lagi ibu-ibu yang membantu suaminya mencari nafkah, sehingga ASI ekslusif akan menurun.
2. Di pedesaan: di daerah pedesaan dapat dibagi dalam 2 kelompok, yaitu: Pertama, kelompok ibu-ibu pedesaan yang mampu. Inilah yang sebetulnya dapat melakukan ASI ekslusif, tetapi banyak faktor yang mempengaruhinya, antara lain faktor sosial, kekerabatan, adat, religi, dan sebagainya. Faktor kekerabatan sosial atau gotong royong antara lain terlihat di masyarakat di Jawa, Sumatra, dan sebagainya. Pada waktu seorang ibu melahirkan, para tetangga berdatangan untuk membantu merawat ibu dan bayinya tersebut. Ada yang memberi madu, kelapa muda, pisang, nasi, dan sebagainya. Pada saat itu ibu masih kesakitan dan belum begitu kuat, sehingga perawatan bayi dilakukan oleh nenek, keluarga suami, ataupun tetangga. Hal ini disebabkan masyarakat di pedesaan hidup dalam kelompok-kelompok. Sebagian besar masyarakat Indonesia menganut adat kultur patrilokal, dimana otonomi dalam keluarga di tangan suami dan ibu suami. Seorang gadis yang sudah berumah tangga, secara otomatis akan mengikuti suaminya. Otonomi keluarga di tangan suami, termasuk di sini adalah pemberian makanan dini pada bayi baru lahir. Kesemuanya akan menyebabkan rendahnya ASI ekslusif. Kedua, ibu-ibu yang tidak mampu di pedesaan yang biasanya terdiri dari buruh/buruh tani, sehingga 1–2 minggu setelah melahirkan mereka harus membantu suaminya mencari nafkah. Sementara, bayinya dititipkan kepada keluarga yang ada di rumah. Oleh keluarganya, bayi diberi makan pisang atau nasi pisang yang dihaluskan, yang relatif murah dan mudah diperoleh. Sedangkan pemberian susu bubuk tidak mungkin terbeli karena harganya mahal. Hal ini juga merupakan penyebab mengapa ASI ekslusif tidak dapat dilakukan.

Karena itu, para petugas kesehatan, terutama dokter dan dokter spesialis anak di seluruh Indonesia, janganlah memberikan suatu penyuluhan di mana masyarakat tidak mungkin dapat melakukannya. Hal ini akan menyebabkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap petugas kesehatan maupun dokter menjadi lebih besar. Di satu pihak, petugas kesehatan/dokter mendapatkan pendidikan dengan ilmu dari Barat dan merasa bahwa ilmu yang dimiliki mutlak benar serta dapat diterapkan di masyarakat. Mereka tidak pernah diberikan Ilmu Dasar-Dasar Sosial, Etnografi (antropologi kesehatan), dan sebagainya. Mereka mempunyai sifat arogan terhadap masyarakat sehingga merasa mempunyai kelas tersendiri dalam masyarakat tersebut (klas ekslusif). Karena itu, mereka bukan menjadi panutan pada masyarakat tersebut. Sebagai contoh, kurang berhasilnya penempatan bidan desa di desa-desa, karena masyarakat lebih senang bersalin di dukun bayi (traditional birth attendance).

Demikian pandangan/pemikiran yang merupakan realita keadaan masyarakat Indonesia, sehingga janganlah model pelaksanaan penyuluhan kesehatan lebih bersifat slogan yang semu yang tidak akan menghasilkan perubahan apapun di masyarakat. Perlu kita ingat bahwa angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian ibu (AKI) merupakan yang tertinggi dan angka harapan hidup yang terendah diantara negara-negara ASEAN. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para sejawat dokter dan dokter spesialis anak maupun jajaran Departemen Kesehatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: